Pengalamanku di Kampung Zuhud

Sore itu, di hari Minggu, 10 November 2019 lalu, aku bersiap untuk sebuah perjalanan yang dinamakan Eksplorasi 2019 ke sebuah desa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tas besarku sudah lengkap berisi perlengkapan menginap. Rasanya aku tidak sabar untuk mendapat pengalaman baru yang pasti seru dan penuh tantangan!

            Sebelum hari yang aku tunggu ini tiba, aku dan teman-teman Penggalang Oase punya kewajiban menyelesaikan tantangan dari para kakak Pembina. Tantangan kami lakukan selama kurang lebih 3 bulan. Ada tantangan yang sulit saja, ada yang sulit banget! Tapi kami coba melakukan sebaik-baiknya. Karena kami tahu, jika kami melewati semua tantangan maka eksplorasi kami akan berjalan dengan baik.

            Bagiku, tantangan terbesar adalah ketika selama sebulan di bulan Oktober, aku berada di luar kota tanpa orangtua, hingga harus sangat super disiplin melakukan tantangan berolahraga setiap hari sendiri! Syukurlah berhasil dilewati dengan penuh perjuangan, hehehe..

Tantangan Kejutan di Stasiun Pasar Senen

            Sesuai instruksi kakak-kakak Pembina, kami berkumpul di Stasiun Pasar Senen. Tujuan kami adalah stasiun Tasikmalaya. Jadwal keberangkatan kereta Serayu yang akan membawa kami adalah jam 21.00, dan kami sudah berkumpul sejak jam 19.00.

            Sambil  menunggu, kami diminta bersama-sama untuk mencetak tiket kereta. Satu persatu teman-temanku berhasil mencetak tiket di mesin, kemudian kembali berkumpul bersama Pembina dengan membawa tiket.

            Ketika tiba giliranku akan mencetak, dengan yakin aku scan bar-code yang ada di lembar tiket pada mesin. Klik check-in, tapiiii kok tiketnya tidak muncul keluar? Waduh! Kenapa, ini? Paniklah aku! Segera aku cari kakak Pembina, dan kutemui Kak Ayu salah seorang Pembina dan mentor kami. Akhirnya didampingi Kak Ayu, aku mencoba menyelesaikan masalah tiket ini ke customer service. Kak Ayu membiarkan aku melaporkan sendiri pada petugas. Petugas dengan ramah membantu, tak lama tiket berhasil dicetak! Lega rasanya!

            Wiiih! Belum berangkat sudah dapat tantangan kejutan nih!

Perjalanan Malam Dimulai!

            Jam 20.30 setelah berdoa bersama, kakak Pembina memberi instruksi pada kami untuk bersiap mengantre menuju kereta. Kami berpamitan kepada kedua orangtua, dan sudah pasti tidak lupa berfoto bersama! Dengan tas punggung besar dan berat, serta tiket di tangan, kami rapi mengantre untuk segera masuk ke dalam kereta. Tak sabar rasanya!

Naik Mobil Bak Terbuka

            Kami sampai jam 04.00 dini hari di Stasiun Tasikmalaya. Begitu sampai, kami berfoto dulu lalu menyimpan tas di atas mobil bak terbuka. Setelah itu kita sholat Subuh dan kembali melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Ciamis, sekitar 40 menit dari stasiun Tasikmalaya.

            Aku deg-degan naik mobil bak terbuka! Karena sebenarnya itu kali pertama aku naik mobil bak terbuka. Ini pengalaman baruku! Sebelum mobil berjalan, kami berhenti di alun-alun untuk menunggu kakak Pembina dan teman-teman naik ke atas bak mobil.

            Setelah dirasa semua peserta eksplorasi dan kakak Pembina lengkap di atas mobil, mobil pun mulai melaju. Tetapi tiba-tiba, ada seseorang yang sadar bahwa rombongan kurang satu orang! Waduh, gawat! Dari kejauhan, tampak seseorang berlari mengejar mobil bak yang kami tumpangi. Segera saja mobil menepi dan berhenti. Ya, ampun! Ternyata Alfar ketinggalan! Perutnya sakit dan lama di toilet! Kami tertawa mendengar cerita Alfar, apalagi Alfar sempat mengejar truk bukan mobil bak kami.

            Perjalanan pun dilanjutkan. Udara pagi yang masih dingin terasa sejuk. Kami sangat menikmati suasana di jalan, walau harus terhadang ranting pohon atau daun pohon pisang. Jadi, kami harus waspada melindungi diri dari ranting dan daun.

Sampai di Kampung Zuhud

            Akhirnya kami sampai di Kampung Zuhud, sebuah desa yang hijau dan asri. Kami pun langsung menuju saung. Sambil menunggu sarapan, tak lama kakak-kakak Pembina pun hadir berkumpul. Kami pun segera menyantap sarapan kami dengan lahap, setelah selesai kami beristirahat sebentar.

            Tak lama, hadir Abah Apep, pendiri Kampung Zuhud dan Bapak Kepala Desa yang bernama Bapak Cece Aryamujin. Beliau berdua dengan ramah, menyambut kedatangan rombongan kami, kami pun berkenalan satu persatu. Suasana terasa akrab, menyenangkan sekali. Tak terasa hari sudah menjelang siang, kami pun sholat Dzuhur bersama dan makan siang.

            Kegiatan pertama kami asyik banget! Kami dipercaya memindahkan ikan yang sudah disiapkan ke kolam ikan untuk diternakan. Aku membawa sendiri satu ember, loh! Eh, tiba-tiba di tengah jalan aku kelelahan. Untunglah datang Alfar untuk membantuku, lalu satu per satu kami semua memasukan ikan ke dalam kolam. Kami juga membantu memasang pagar di dalam kolam.

            Setelah berbasah-basahan di kolam, kami melanjutkan kegiatan lagi dengan berjalan menuju DAM atau bendungan. Perjalanannya panjang sekali, kaki kami luka-luka terkena ranting pohon dan sejenisnya, tetapi begitu sampai di tepi DAM, woohoo kami semua langsung nyebur!

            Beberapa dari kami bahkan melompat dari posisi tepi DAM yang tinggi di atas. Aku yang awalnya ragu-ragu, akhirnya lompat juga. Ketika lompat, aku merasa tegang, dalam hati ku bilang,”Sakit atau nggak, ya?”

            Byuur! Rasanya tidak percaya, aku berani terjun dari ketinggian sekitar 4 meter, masuk ke air, naik ke permukaan dan SELAMAT! Rasanya hatiku berkecamuk tidak menentu sekaligus senang. Pelan-pelan aku menuju ke tepian dan naik dari dalam DAM. Bersama teman-teman, aku kembali lagi ke saung dan segera pergi mandi.

            Lagi-lagi ada kejutan lain yang aku temui! Tempat mandi yang tersedia berupa bilik dengan dinding bambu berukuran pendek sekitar setengah badan orang dewasa. Seperti bilik bambu pada umumnya, anyaman bambu berlubang-lubang. Waaaah, teman-teman jadi iseng ngintip sambil tertawa-tawa, deh!

Bertemu Keluarga Asuh Kami

            Kami berkeliling untuk mengenal kondisi dan situasi di Kampung Zuhud, ternyata luas Kampung Zuhud tergolong kecil. Jalan pada peta yang kami buat terasa mudah diingat dan dihapal. Hingga hari menjalang malam, kami makan malam bersama lalu menuju ke rumah keluarga asuh masing-masing. Aku, Syabil dan Ibrahim tergabung dalam  1 regu, artinya kami bertiga tinggal di rumah keluarga asuh yang sama.

            Orangtua asuh kami bernama Kakek Fadli dan istrinya yang lebih senang dipanggil Nenek tanpa menyebutkan nama. Kakek Fadli dan Nenek hanya tinggal berdua saja, karena anak-anak mereka sudah tinggal di tempat lain. Kami belum mengobrol banyak, karena sudah terlalu lelah dan harus mempersiapkan tenaga untuk kegiatan besok. Akhirnya kami pamit untuk segera tidur.

Hari Pertama

            Kegiatan hari pertama kami tidak direncanakan oleh kakak pembina, melainkan oleh keluarga asuh. Pagi hari, kami baru betul-betul mengobrol banyak dengan Kakek dan Nenek. Rupanya, Kakek dan Nenek tidak bisa berbahasa Indonesia! Hanya Bahasa Sunda yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. Waduh!

            Aku sempat mengira akan sulit bagi kami berkomunikasi dengan Kakek dan Nenek, tapi ternyata seru juga, karena kami jadi belajar Bahasa Sunda. Kakek memiliki ladang, hanya karena sedang kemarau belum ada hasil panen ladang yang dapat dikerjakan. Dengan kondisi Kakek yang sudah tidak kuat bekerja keras, kegiatan Kakek juga jadi terbatas. Akhirnya diputuskan untuk kami bertiga membantu di rumah, seperti menyiram tanaman, memasak dan juga mengambil air bersih dari sumber air ke tempat mandi di rumah Kakek. Mengalami pengalaman mengambil air dengan jarak yang lumayan jauh, membuat aku sadar, bahwa betapa mudahnya hidup kami selama ini di rumah masing-masing, ya. Mau mandi sangat mudah.

Hari Kedua

            Di hari kedua, kami lebih banya “gabut”, karena itu aku memutuskan mencari kesibukan sendiri untuk regu kami. Kami izin untuk jalan-jalan berkeliling desa pada Kakek. Di perjalanan,  kami sampai di hutan, dan bertemu dengan regu lain. Ternyata, mereka sedang berburu tupai! Tupai sering menjadi hama bagi pohon kelapa di sana. Menarik juga, nih! Kami pun bergabung bersama-sama.

            Aku baru tahu, untuk berburu harus menggunakan senapan angin. Eeh, ternyata aku diizinkan mencoba! Itu kali pertama aku memegang senjata sungguhan dan menembakannya. Senang sekali rasanya. Setelah merasa cukup belajar, kami kembali lagi ke rumah Kakek. Di perjalanan pulang, kami berpasasan dengan Kakek yang sedang mengangkat air dalam jeriken. Duh, aku kasihan melihatnya. Segera aku tawarkan untuk membantu. Kami pun membawakan air untuk digunakan Kakek, dari lokasi sumber air di dekat saung ke rumah Kakek. Jarak yang ditempuh lumayan jauh, dan harus melalui perjalanan yang menantang, naik turun dan menanjak. Sisa waktu kami gunakan untuk mampir ke rumah keluarga asuh salah satu teman kami, Billy yang terletak di sebelah rumah Kakek. Kami mengobrol hingga sore hari.

Hari Ketiga

            Tidak terasa sudah 3 hari kita di Kampung Zuhud. Pagi-pagi seperti biasa, kami membantu Kakek Fadli menyiram tanaman dan mengambil air. Lagi-lagi setelah itu, kami gabut lagi. Kakek Fadli pun menawarkan kami untuk mampir ke rumah Pak Ondin, untuk belajar bercocok tanam. Kami setuju dan bergegas menuju ke rumah Pak Ondin, salah seorang orangtua asuh dari regu teman kami, Dilan.

            Di sana kami belajar banyak tentang proses mengembang biakan tanaman. Seperti stek dan banyak lagi. Asyik juga ternyata! Setelah belajar, kami disuguhi minuman kelapa muda oleh Pak Ondin. Air kelapa muda dicampur dengan gula aren (gula merah). Aaah, rasanya enak sekali. Segar! Aku sampai nambah dan nambah terus. Tak terasa sore pun tiba, kami pamit pulang ke rumah masing-masing.

Hari Keempat

            Ini adalah hari terakhir kami di Kampung Zuhud.  Di hari ini, kami berkegiatan bersama kakak Pembina. Kami pergi ke sebuah pabrik rumahan yang memproduksi makanan camilan yang dinamakan sotong. Sotong dibuat dari tepung dan telur, adonan dipanaskan di wajan mirip seperti lembar pancake, kemudian digulung setelah jadi.

            Kami diajari cara membuat sotong, dari mulai memanaskan hingga menggulung. Setelah selesai, kami pun dibekali banyak sotong untuk dibagikan di rumah keluarga asuh masing-masing. Kegiatan dilanjutkan dengan belajar membuat angklung di saung. Kami juga diajar cara memainkannya.

            Selesai belajar angklung, kami makan siang bersama. Eh, ada kegiatan seru lagi setelah makan siang, yaitu menangkap ikan hasil ternakan kami! Nanti ikannya akan dimasak untuk menu makan malam. Kami pun segera menuju kolam atau balong. Anak-anak laki harus menunggu giliran setelah anak perempuan ketika mengambil ikan. Begitu giliran kami anak laki, eeeh hujan turun dengan derasnya!

            Bukannya mengambil ikan, kami berebutan naik dari kolam, untuk main hujan-hujanan. Beberapa teman memilih main bola di tengah hujan, aku lebih senang main hujan dan main lumpur. Betul-betul seru dan menyenangkan sekali.

            Setelah hujan mereda, kami kembali ke rumah untuk mandi. Eeeh, kepalaku terasa pusing dan tubuhku sedikit demam! Waaah! Kakak Pembina memutuskan aku untuk tidak ikut acara penutupan dan api unggun. Aku diminta istirahat supaya besok tubuhku fit kembali. Akupun tidur sementara di rumah keluarga asuh Alfar. Rupanya Alfar juga demam seperti aku.

            Ketika acara penutupan sudah selesai, aku kembali ke rumah Kakek Fadli bersama Syabil dan Ibrahim. Kedua teman reguku ini lucu-lucu sekali. Ibrahim gemar bercerita tentang hantu-hantuan! Sementara Syabil, kalau tidur tidak bisa diam. Ada saja gerakannya hingga meniban aku, membuat aku terbangun karena merasa berat!

Hari Kepulangan Kami

            Saatnya kami harus kembaili ke Jakarta! Pagi-pagi, kami sudah berpamitan pada Kakek dan Nenek. Lalu kami bersama sarapan di rumah Abah Apep, sekaligus berpamitan,  sebelum akirnya berangkat dengan bus menuju terminal Bus Budiman di Tasikmalaya yang akan membawa kami kembali. Oya, kami pulang tidak naik kereta lagi. Tapi naik bus besar dengan kursi yang nyaman untuk tidur.

            Perjalanan dengan bus memakan waktu 7 jam. Sepanjang perjalanan kami bernyayi, tidur dan mengobrol.  Kami sampai di terminal Kampung Rambutan jam 17.21, sebelum pulang bersama orngtua, kami berkumpul dengan rombongan untuk briefing terakhir.

            Di perjalanan pulang ke rumah, aku masih merasa terkesan dengan banyaknya pengalaman yang aku dapat di Kampung Zuhud. Aku belajar melawan rasa takut, aku belajar cara stek tanaman, aku belajar beternak ikan, aku belajar memegang senapan angin, aku belajar hidup dalam banyak keterbatasan, dan aku belajar berempati, ringan tangan serta menghargai sesama manusia. Terima kasih untuk pengalaman ini, kakak-kakak Pembina!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s